DIANA, RIZTAMALA (2023) PEMANFAATAN CANGKANG KELAPA SAWIT DAN TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT(TKKS)SEBAGAI BIOPELET PADA CO-FIRING. Masters thesis, Politeknik Negeri Sriwijaya.
|
Text
a. Cover2.pdf Download (1MB) | Preview |
|
|
Text
b. Bab I.pdf Download (196kB) | Preview |
|
|
Text
c. Bab II.pdf Download (2MB) | Preview |
|
![]() |
Text
d. Bab III.pdf Restricted to Repository staff only Download (222kB) | Request a copy |
|
![]() |
Text
e. Bab IV.pdf Restricted to Repository staff only Download (499kB) | Request a copy |
|
|
Text
f. Bab V.pdf Download (127kB) | Preview |
|
|
Text
g. Daftar Pustaka.pdf Download (134kB) | Preview |
|
|
Text (Surat Hasil Pengujian)
h. Lampiran.pdf Download (26MB) | Preview |
Abstract
Penggunaan sumber energi terbarukan berupa bahan bakar nabati (BBN) perlu ditingkatkan, mengingat kebutuhan akan sumber bahan bakar yang berasal dari fosil setiap tahun makin meningkat dan bahan bakar tersebut terbatas dan mahal, mendorong berbagai penelitian dan pengembangan untuk mendapatkan bahan bakar yang lebih murah, ramah lingkungan, dan dari bahan alam yang sifatnya terbarukan. Meningkatnya jumlah produksi perkebunan kelapa sawit, maka akan meningkat pula jumlah limbah yang dihasilkan, baik berupa limbah padat ataupun cair. Di sisi lain, setiap 1 hektar kebun kelapa sawit akan menghasilkan sekitar 1,5 ton TKKS dan cangkang kelapa sawit merupakan salah satu limbah pengolahan minyak kelapa sawit yang cukup besar, yaitu mencapai 60% dari produksi minyak. Bahan limbah pertanian seperti biomassa memiliki potensi sebagai bahan bakar alternatif menggantikan bahan bakar fosil karena kandungan karbonnya yang tinggi. Biomassa jika dibakar secara langsung tanpa proses pengolahan memiliki nilai densitas bulk dan nilai kalor yang rendah, serta kadar emisi polutan yang tinggi. Untuk mengolah biomassa sendiri harus diperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh pada segi pembakaran agar mendapatkan hasil yang optimal. Komposisi dari bahan baku sebagian besar menjadi pengaruh dari karakteristik pembakaran biomassa. Cangkang kelapa sawit dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang merupakan limbah industri sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal dan sering menimbulkan pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar limbah cangkang kelapa sawit dan TKKS dapat menjadi produk yang lebih bermanfaat. Kandungan yang ada pada cangkang kelapa sawit dan TKKS berpotensi dapat dikonversi menjadi bahan bakar. Bahan bakar tersebut berupa Biopelet. Biopelet ini dibuat dengan menghancurkan bahan baku cangkang kelapa sawit dan TKKS dengan bantuan perekat amilum. Masing-masing menggunakan variasi bahan baku antara cangkang kelapa sawit dan TKKS yaitu 100%:0%, 70%:30%, 50%:50%, 30%:70%. 0%:100%. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengklarifikasi karakteristik bahan baku cangkang kelapa sawit dan TKKS dan bahan bakar berupa biopelet yang dihasilkan serta bagaimana dampaknya terhadap lingkungan ditinjau dari Life Cycle Assessment (LCA). Penelitian ini dimulai dari pemilihan bahan baku dari kombinasi cangkang kelapa sawit dan TKKS. Kemudian bahan baku dilakukan proses pengeringan. Pengeringan bahan baku dengan oven di suhu 40 o C dalam waktu 1x 24 jam , ini dilakukan untuk mengurangi kadar air di dalam bahan baku, lalu dilakukan pencacahan agar ukuran partikel lebih kecil. Selanjutnya, pengujian komposisi kimia perlu dilakukan untuk mengetahui potensi bahan baku dan prediksi rasio komposisi terbaik menjadi produk pelet. Proses seleksi pertama, nilai kalor bahan baku yang diuji menggunakan kalorimeter bom bertujuan untuk mendapatkan kombinasi bahan baku yang tepat dalam produksi pelet dengan nilai kalor tinggi dan fisik yang kuat. Proses dilanjutkan dengan pembuatan pelet dengan berbagai rasio komposisi dan langkah terakhir adalah pengujian kualitas pelet yang dihasilkan yaitu analisa nilai kalor, proksimat dan ultimat. Hasil penelitian didapatkan biopelet optimum dengan variasi 30%:70% memiliki kadar air 6,97%. Kadar air ini tergolong cukup rendah, hal ini dikarenakan proses pengeringan pada bahan berjalan cukup sempurna. Kadar abu 5,08%, zat terbang 76,14% dan karbon tetap 11,81%. Dari rasio komposisi bahan baku didapatkan rasio terbaik biopelet adalah kombinasi komposisi cangkang kelapa sawit:TKKS (30:70) dengan nilai kalor 5.734 kkal/kg, sehingga rasio biopelet ini dapat digunakan sebagai co-firing pembangkit listrik sesuai SNI 8951:2020. Nilai kalor ini menunjukkan bahwa pada komposisi ini bahan baku telah melalui preparasi yang cukup baik sehingga memiliki nilai kalor yang lebih tinggi dibandingkan rasio komposisi lain. Hasil analisa ultimat pada variasi ini yaitu kadar C sebesar 51,92%, kadar H sebesar 8,73%, kadar N sebesar 0,44%, kadar O sebesar 26,76% dan kadar S sebesar 0,17%. Hal ini menunjukkan bahwa rasio atom C, H, O, N, dan S yang terkandung dalam biopelet dapat digunakan untuk menunjukkan besarnya nilai kalor yang dapat digunakan untuk bahan bakar tertentu. Proses persiapan bahan baku, pretreatment dan pencetakan biopelet dilakukan Life Cycle Assessment. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembuatan biopelet menggunakan aplikasi Simapro V.9 dengan metode Impact 2002+ memiliki dampak terhadap lingkungan yang paling besar 13,362342 kg CO2 eq dikarenakan konsumsi listrik dan bahan bakar pada proses ini lebih besar.
Item Type: | Thesis (Masters) |
---|---|
Uncontrolled Keywords: | Biopelet, Co-firing, Cangkang Kelapa Sawit, Tandan Kosong Kelapa Sawit Kepustakaan: 40 (2006 – 2023) |
Subjects: | T Technology > T Technology (General) |
Divisions: | Energy Engineering > Research |
Depositing User: | Mrs Trisni Handayani |
Date Deposited: | 04 Sep 2024 04:38 |
Last Modified: | 04 Sep 2024 04:38 |
URI: | http://eprints.polsri.ac.id/id/eprint/15444 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |